Kua Etnika

Kua Etnika

Genres: jazz, experimental, indonesia, ethnic, trie utami

About Kua Etnika

Komunitas Seni Kua Etnika memang sebuah sanggar. Didirikan antara lain oleh Djaduk Ferianto, Butet Kartaredjasa, dan Purwanto pada tahun 1995, sanggar ini merupakan medan interaksi dari sejumlah pekerja seni: pemusik, penyair dan pemain teater. Sejak awal tahun 80-an, secara temporal dan sporadis, para pendukung yang terhimpun di sini telah melakukan interaksi kreatif dalam berbagai kesempatan. Antara lain melalui Teater Gandrik, Padepokan Seni Bagong K, Komunitas Pak Kanjeng (1993-1995), dan Teater Paku. Setelah berproses dalam kelompok-kelompok kesenian itu, mereka semakin memantapkan diri sebagai sebuah kelompok kesenian yang solid. Sebagai sebuah komunitas mereka bergerak dalam satu niat yang sama, yaitu melakukan penjelajahan kreatif ulang-alik, antara kesenian tradisional dan kesenian modern; antara “eksplorasi bebas yang idealistik” dengan “eksplorasi pragmatis yang industrial”. Mereka meyakini bahwa dua kutub yang berseberangan itu, yang terkadang mengandung nilai-nilai yang bertentangan, pada satu momentum perlu disinergikan. Dipertemukan untuk dipetik manfaatnya. Karena itulah, sejak tahun 1997 komunitas ini memberanikan diri membangun sebuah sanggar seluas 600 meter persegi, di desa Kersan, Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan. Bantul, Yogyakarta, Indonesia. Di sanggar yang dibangun secara swadaya, yang akhirnya dilengkapi sebuah studio rekaman ini, kemudian tersambunglah proses budaya ulang-alik itu. Suatu saat mereka menjelajah dari satu konser ke konser lain di berbagai gedung kesenian serius. Tetapi, pada suatu kali, mereka tidak merasa merosot derajatnya karena harus melakukan pertunjukan mengiringi penyanyi pop di layar televisi, atau pun ke acara bersifat hiburan dalam aneka kemasan. Mereka menjadikan seni musik sebagai atmosfer kreatif. Dalam payung kelompok musik Kua Etnika mereka melakukan penggalian musik-musik etnik, perkusif dan memadukannya dengan instrument elektrik, seperti tampak dalam pertunjukan ke Eropa kali ini. Saat yang sama mereka juga menafsir kembali musik keroncong dalam semangat daur ulang sebagaimana tercermin dalam album musik Orkes Sinten Remen. Dengan model pendekatan ini musik keroncong tampil dalam kemasan yang lebih familier bagi generasi baru karena di dalamnya terkandung jazz, blues, rock’n roll, country dan ndangdut.

Taken from Last.fm

68 listeners  ·  1,542 plays via Last.fm